ALBOERIKY

Rabu, 14 Juni 2017

Raihlah Lalilatul Qadar dengan I'tikaf di Malam Sepuluh Akhir Ramadhan

Dengan Hati yang Bersih Menyambut Lailatul Qadar...
Allah SWT berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻳَﻬْﺪِﻳﻬِﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬِﻢُ
ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﻓِﻲ ﺟَﻨَّﺎﺕِ ﺍﻟﻨَّﻌِﻴﻢِ .

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan Amal-Amal Shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir Sungai-sungai di dalam Surga yang penuh kenikmatan "
(QS.Yunus, Ayat : 9)

Ibadah i’tikaf/Fokus Berdiam Diri di Masjid atau Mushollah Dalam Rangka Khusyu Beramal Ibadah ialah bertujuan Mulia Demi menggapai malam lailatul qadar yang punya Keutamaan Amaliah ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan atau Kurang Lebih 83 Tahun 4 Bulan (Pahala Tingkat Tinggi Dengan Nila Yang Fantastik Tanpa Maksiat Sedikitpun).
Baik Dengan Memperbanyak Amal Ibadah Sunnah, Membaca Al Qur'an, Membaca Istighfar, Membaca Sholawat Nabi serta Bersedekah atau Perbuatan Mulia Lainnya.
Dan Bayangkanlah Jika Malam Ramadhan Tahun Ini Adalah Malam Bulan Ramadhan Terakhir Dirimu di Dunia Ini... !!!
Agar Kekhusyuan Kau Dapati Berkah Menghayati dan Merenungi Begitu Agungnya Hidangan Allah SWT Berupa Bulan Ramadhan Ini...
Di antara Tujuan i’tikaf adalah untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Mengharapkan AmpunanNYA serta Menggapai malam Mulia tersebut di Akhir Ramadhan. Dan yang paling utama bila i’tikaf dilakukan di Hari sepuluh hari akhir di bulan Suci Ramadhan tsb.

Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk melakukan ibadah i’tikaf
tersebut demi mencontoh Sunnah Rasulullah SAW.

Ada hadits yang disebutkan oleh Assyaikh Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolani Di dalam Kitab Karya Beliau Yakni Kitab Bulughul Marom, di hadits no. 699 tentang Keterangan i’tikaf :

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍَﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ :- ﺃَﻥَّ ﺍَﻟﻨَّﺒِﻲَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ
ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﺍَﻟْﻌَﺸْﺮَ ﺍَﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮَ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ , ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻮَﻓَّﺎﻩُ ﺍَﻟﻠَّﻪُ , ﺛُﻢَّ ﺍﻋْﺘَﻜَﻒَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻪُ ﻣِﻦْ
ﺑَﻌْﺪِﻩِ – ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Dari Ummul Mu'minin Satyidatuna Aisyah radhiyallahu ‘anha , ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Suci
Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah SWT. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah Beliau Wafat.
(HR.Al Imam Bukhari no. 2026 dan Al Imam
Muslim no.1172).
Amalan I’tikaf itu disyari’atkan setiap waktu, namun lebih ditekankan lagi di bulan Suci Ramadhan, lebih-lebih lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan suci tersebut.

Renungan Diri :

Bulan Suci Ramadhan ini telah menemani kita Tinggal Sepuluh Akhir Lagi, Tibalah saatnya ia akan Bergegas pergi. Walau berat, kita pun harus Rela berpisah dengannya. Padahal, di bulan itu banyak Kebaikan dilipat Gandakan, Rahmat, dan Keberkahan yang di Hujani Oleh Sang Maha Dermawan Robbul Alamin SWT.
Di dalamnya Terkandung Banyak Keutamaan Yang Tidak Dapat Di Gambarkan, Hanya Hamba Allah SWT yang Beriman san Meyaqini Adanya, Memiliki kesempatan besar mengejar
ketertinggalan pahala pada hari-hari Sebelumnya yang Terlalaikan.
Iapun bisa Berniat Ingin Mengubur Semua dosa-dosa dan kesalahannya di hari-hari yang Telah Berlalu. Bahkan, ada Lailatul Qadar, di mana satu malam lebih mulia dari Seribu Bulan. Amal
kebaikan di dalamnya nilainya lebih Dahsyat baiknya daripada amal serupa dikerjakan selama seribu bulan yang tak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
Subhanallah,Maha Suci Allah SWT yang Menganugrahkan Hadiah Terindah Ini bagi kaum mukminin. Namun, ternyata tak semua orang Islam bisa menyukurinya...

Juga tak semua bisa sabar menahan diri dari kesibukannya terhadap Dunia Fana ini dan aktifitas dosa-dosa, guna mengisinya dengan meningkatkan ibadah, shaum, shalat, tilawah, sedekah dan lainnya. Sehingga saat Ramadhan pergi ia menjadi manusia yang Sangat Merugi Sekali. Mengapa bisa...???
Karena ia tak mampu memetik pahala dan memanen ganjaran yang berlimpah. Bahkan kesalahan-kesalahannya tak juga dihapuskan, sedangkan dosa-dosanya belum Kunjung diampuni Allah SWT.
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan
jawabannya, salah satunya :

ﻭَﺭَﻏِﻢَ ﺃَﻧْﻒُ ﺭَﺟُﻞٍ ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺛُﻢَّ ﺍﻧْﺴَﻠَﺦَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﻔَﺮَ ﻟَﻪُ

" Amat Merugi/Amat Hina seseorang yang mana Bulan Suci Ramadhan Telah masuk padanya kemudian Bulan Suci Ramadhan Pergi Namun Dosa-dosanya Belum Kunjung diampuni Allah SWT "
(HR.Al Imam Ahmad di Dalam Kitab Shahih Al-Jaami',no. 3510).
Rasulullah SAW bersabda :

ﺍﻟْﺘَﻤِﺴُﻮﻫَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓِﻰ ﺗَﺎﺳِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ، ﻓِﻰﺳَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ، ﻓِﻰ ﺧَﺎﻣِﺴَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ .

“ Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa .”
(HR.Al Imam Bukhari)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar ialah :
● Udara dan Angin sekitar terasa Tenang.
Sebagaimana Keterangan dari Al Imam Ibnu Abbas, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟﻘَﺪَﺭِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺳَﻤْﺤَﺔٌ ﻃَﻠَﻘَﺔٌ ﻟَﺎ ﺣَﺎﺭَﺓً ﻭَﻟَﺎ ﺑَﺎﺭِﺩَﺓً ﺗُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺸَﻤْﺲُ ﺻَﺒِﻴْﺤَﺘُﻬَﺎ ﺿَﻌِﻴْﻔَﺔٌ
ﺣَﻤْﺮَﺍﺀ .

“ Lailatul qadar adalah malam yang penuh Kelembutan, Cerah, tidak begitu Panas, juga tidak begitu Dingin, pada pagi hari Matahari Bersinar Lemah (Karena Banyaknya Malaikat Bak Butiran Debu yang Turun Ke Bumi di Mala Hari dan di Pagi Hari Naik Lagi Ke Langit Hingga Menutupi Cahaya Sinar Matahari) dan Cahaya Matahari Nampak Kemerah-Merahan.” (HR.Al Imam Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)
● Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan
merasakan kelezatan dalam Beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
● Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian
Sahabat Nabi SAW.
●Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Sahabat Abi bin Ka’ab R.a bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
” Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik. ” (HR.Al Imam Muslim)
Kitab Shohih Fiqh Sunnah Juz.II/Hal.149-150).

Do'a Rasulullah SAW Agar Meraih Lailatul Qadar :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻰ .

" Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni "
(Ya Allah...Wahai Allah SWT..., Engkau Sang Maha Pemaaf dan Engkau Mencintai Hamba yang Meminta Maaf, karena Itulah Maka Maafkanlah Seluruh Kesalahanku)
Sumber Hadits :

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻋَﻠِﻤْﺖُ ﺃَﻯُّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻣَﺎ
ﺃَﻗُﻮﻝُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻮﻟِﻰ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻰ.

Dari Ummul Mu'minin Sayyidatuna ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha -, ia berkata, “ Aku Pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan...?
Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Berdo’alah :
" Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni "
(HR.Al Imam Tirmidzi no. 3513 dan Al Imam Ibnu
Majah no. 3850. Al Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan :
bahwa Hadits ini Hasan Shahih. Al Imam Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa Hadits ini Shahih).

Di Sepuluh Akhir Bulan Suci Ramadhan, Rasulullah SAW Sering Membangunkan Keluarga Besarnya Untuk Lebih Giat Lagi Ibadah Menggapai Lailatul Qadar.
Semoga Allah SWT Mengampuni Segala Dosa-dosa Kita Dzhohir maupun Bathin di Malam Lailatul Qadar Sehingga Derajat kita Di Angkat Dunia wal Akhirat Mencapai Surga Kelak Bersama Rombongan Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.
Amin Ya Allah Ya Robbal Alamin.
.
Wallohu a'lam