ALBOERIKY

Rabu, 14 Juni 2017

Raihlah Lalilatul Qadar dengan I'tikaf di Malam Sepuluh Akhir Ramadhan

Dengan Hati yang Bersih Menyambut Lailatul Qadar...
Allah SWT berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻳَﻬْﺪِﻳﻬِﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬِﻢُ
ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﻓِﻲ ﺟَﻨَّﺎﺕِ ﺍﻟﻨَّﻌِﻴﻢِ .

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan Amal-Amal Shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir Sungai-sungai di dalam Surga yang penuh kenikmatan "
(QS.Yunus, Ayat : 9)

Ibadah i’tikaf/Fokus Berdiam Diri di Masjid atau Mushollah Dalam Rangka Khusyu Beramal Ibadah ialah bertujuan Mulia Demi menggapai malam lailatul qadar yang punya Keutamaan Amaliah ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan atau Kurang Lebih 83 Tahun 4 Bulan (Pahala Tingkat Tinggi Dengan Nila Yang Fantastik Tanpa Maksiat Sedikitpun).
Baik Dengan Memperbanyak Amal Ibadah Sunnah, Membaca Al Qur'an, Membaca Istighfar, Membaca Sholawat Nabi serta Bersedekah atau Perbuatan Mulia Lainnya.
Dan Bayangkanlah Jika Malam Ramadhan Tahun Ini Adalah Malam Bulan Ramadhan Terakhir Dirimu di Dunia Ini... !!!
Agar Kekhusyuan Kau Dapati Berkah Menghayati dan Merenungi Begitu Agungnya Hidangan Allah SWT Berupa Bulan Ramadhan Ini...
Di antara Tujuan i’tikaf adalah untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Mengharapkan AmpunanNYA serta Menggapai malam Mulia tersebut di Akhir Ramadhan. Dan yang paling utama bila i’tikaf dilakukan di Hari sepuluh hari akhir di bulan Suci Ramadhan tsb.

Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk melakukan ibadah i’tikaf
tersebut demi mencontoh Sunnah Rasulullah SAW.

Ada hadits yang disebutkan oleh Assyaikh Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolani Di dalam Kitab Karya Beliau Yakni Kitab Bulughul Marom, di hadits no. 699 tentang Keterangan i’tikaf :

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍَﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ :- ﺃَﻥَّ ﺍَﻟﻨَّﺒِﻲَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ
ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﺍَﻟْﻌَﺸْﺮَ ﺍَﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮَ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ , ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻮَﻓَّﺎﻩُ ﺍَﻟﻠَّﻪُ , ﺛُﻢَّ ﺍﻋْﺘَﻜَﻒَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻪُ ﻣِﻦْ
ﺑَﻌْﺪِﻩِ – ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Dari Ummul Mu'minin Satyidatuna Aisyah radhiyallahu ‘anha , ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Suci
Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah SWT. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah Beliau Wafat.
(HR.Al Imam Bukhari no. 2026 dan Al Imam
Muslim no.1172).
Amalan I’tikaf itu disyari’atkan setiap waktu, namun lebih ditekankan lagi di bulan Suci Ramadhan, lebih-lebih lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan suci tersebut.

Renungan Diri :

Bulan Suci Ramadhan ini telah menemani kita Tinggal Sepuluh Akhir Lagi, Tibalah saatnya ia akan Bergegas pergi. Walau berat, kita pun harus Rela berpisah dengannya. Padahal, di bulan itu banyak Kebaikan dilipat Gandakan, Rahmat, dan Keberkahan yang di Hujani Oleh Sang Maha Dermawan Robbul Alamin SWT.
Di dalamnya Terkandung Banyak Keutamaan Yang Tidak Dapat Di Gambarkan, Hanya Hamba Allah SWT yang Beriman san Meyaqini Adanya, Memiliki kesempatan besar mengejar
ketertinggalan pahala pada hari-hari Sebelumnya yang Terlalaikan.
Iapun bisa Berniat Ingin Mengubur Semua dosa-dosa dan kesalahannya di hari-hari yang Telah Berlalu. Bahkan, ada Lailatul Qadar, di mana satu malam lebih mulia dari Seribu Bulan. Amal
kebaikan di dalamnya nilainya lebih Dahsyat baiknya daripada amal serupa dikerjakan selama seribu bulan yang tak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
Subhanallah,Maha Suci Allah SWT yang Menganugrahkan Hadiah Terindah Ini bagi kaum mukminin. Namun, ternyata tak semua orang Islam bisa menyukurinya...

Juga tak semua bisa sabar menahan diri dari kesibukannya terhadap Dunia Fana ini dan aktifitas dosa-dosa, guna mengisinya dengan meningkatkan ibadah, shaum, shalat, tilawah, sedekah dan lainnya. Sehingga saat Ramadhan pergi ia menjadi manusia yang Sangat Merugi Sekali. Mengapa bisa...???
Karena ia tak mampu memetik pahala dan memanen ganjaran yang berlimpah. Bahkan kesalahan-kesalahannya tak juga dihapuskan, sedangkan dosa-dosanya belum Kunjung diampuni Allah SWT.
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan
jawabannya, salah satunya :

ﻭَﺭَﻏِﻢَ ﺃَﻧْﻒُ ﺭَﺟُﻞٍ ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺛُﻢَّ ﺍﻧْﺴَﻠَﺦَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﻔَﺮَ ﻟَﻪُ

" Amat Merugi/Amat Hina seseorang yang mana Bulan Suci Ramadhan Telah masuk padanya kemudian Bulan Suci Ramadhan Pergi Namun Dosa-dosanya Belum Kunjung diampuni Allah SWT "
(HR.Al Imam Ahmad di Dalam Kitab Shahih Al-Jaami',no. 3510).
Rasulullah SAW bersabda :

ﺍﻟْﺘَﻤِﺴُﻮﻫَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓِﻰ ﺗَﺎﺳِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ، ﻓِﻰﺳَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ ، ﻓِﻰ ﺧَﺎﻣِﺴَﺔٍ ﺗَﺒْﻘَﻰ .

“ Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa .”
(HR.Al Imam Bukhari)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar ialah :
● Udara dan Angin sekitar terasa Tenang.
Sebagaimana Keterangan dari Al Imam Ibnu Abbas, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟﻘَﺪَﺭِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺳَﻤْﺤَﺔٌ ﻃَﻠَﻘَﺔٌ ﻟَﺎ ﺣَﺎﺭَﺓً ﻭَﻟَﺎ ﺑَﺎﺭِﺩَﺓً ﺗُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺸَﻤْﺲُ ﺻَﺒِﻴْﺤَﺘُﻬَﺎ ﺿَﻌِﻴْﻔَﺔٌ
ﺣَﻤْﺮَﺍﺀ .

“ Lailatul qadar adalah malam yang penuh Kelembutan, Cerah, tidak begitu Panas, juga tidak begitu Dingin, pada pagi hari Matahari Bersinar Lemah (Karena Banyaknya Malaikat Bak Butiran Debu yang Turun Ke Bumi di Mala Hari dan di Pagi Hari Naik Lagi Ke Langit Hingga Menutupi Cahaya Sinar Matahari) dan Cahaya Matahari Nampak Kemerah-Merahan.” (HR.Al Imam Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)
● Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan
merasakan kelezatan dalam Beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
● Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian
Sahabat Nabi SAW.
●Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Sahabat Abi bin Ka’ab R.a bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
” Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik. ” (HR.Al Imam Muslim)
Kitab Shohih Fiqh Sunnah Juz.II/Hal.149-150).

Do'a Rasulullah SAW Agar Meraih Lailatul Qadar :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻰ .

" Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni "
(Ya Allah...Wahai Allah SWT..., Engkau Sang Maha Pemaaf dan Engkau Mencintai Hamba yang Meminta Maaf, karena Itulah Maka Maafkanlah Seluruh Kesalahanku)
Sumber Hadits :

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻋَﻠِﻤْﺖُ ﺃَﻯُّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻣَﺎ
ﺃَﻗُﻮﻝُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻮﻟِﻰ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻰ.

Dari Ummul Mu'minin Sayyidatuna ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha -, ia berkata, “ Aku Pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan...?
Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Berdo’alah :
" Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni "
(HR.Al Imam Tirmidzi no. 3513 dan Al Imam Ibnu
Majah no. 3850. Al Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan :
bahwa Hadits ini Hasan Shahih. Al Imam Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa Hadits ini Shahih).

Di Sepuluh Akhir Bulan Suci Ramadhan, Rasulullah SAW Sering Membangunkan Keluarga Besarnya Untuk Lebih Giat Lagi Ibadah Menggapai Lailatul Qadar.
Semoga Allah SWT Mengampuni Segala Dosa-dosa Kita Dzhohir maupun Bathin di Malam Lailatul Qadar Sehingga Derajat kita Di Angkat Dunia wal Akhirat Mencapai Surga Kelak Bersama Rombongan Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.
Amin Ya Allah Ya Robbal Alamin.
.
Wallohu a'lam

Kamis, 13 Februari 2014

HUKUM TALQIN MAYIT

Hukum Talqin Mayit

Dalam kitab مخنى المحتاج juz I, disebutkan bahwa menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal, hukum membaca Talqin bagi mayit yang sudah mukallaf setelah selesai dikubur itu hukumnya disunahkan. Orang yang membaca talqin itu duduk di arah kepala kuburan mayit, kemudian berkata kepada mayit:
ياَعَبْدَاللهِ ابْنَ أَمَةِ اللهِ اُذْكُرْمَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدَّارالدُنْياَ شَهَادَةَ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ ُمحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَاَنَّ اْلجَنَّةَ حَقٌّ وَاَنَّ النَّارَ حَقٌّ وَاَنَّ اْلبَعْثَ حَقٌّ وَاَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَرَيْبَ فِيْهَا وَاَنَّ اللهَ َيبْعَثُ مَنْ فِى اْلقُبُوْرِ وَاَنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنَا وَِبمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَبِالقُرْآنِ اِمَامً وَبِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً وَبِاْلمُؤْمِنِينَ اِخْوَاناً. رواه الطبر انى فى الكبير
“Ya, Abdullah bin Amatillah! Ingatlah apa yang kamu keluar atasnya dari dunia ini.
Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Sesungguhnya surga itu benar, neraka itu benar, kebangkitan itu benar dan hari qiyamat pasti datang tidak diragukan lagi,
dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan manusia dari kubur
dan sesungguhnya engkau telah ridla bahwa Allah sebagai Tuhanmu dan Islam agamamu dan Muhammad Nabimu dan Al-Qur’an panutanmu dan Ka’bah kiblatmu dan orang-orang mu’min saudaramu”. (Hadits diriwayatkan Thobroni).
Menurut Imam Nawawi, walaupun hadits ini dha’if, tetapi dikuatkan oleh beberapa hadits lain yang shahih dan firman Allah;
وَذَكِّرْ فَاِءنَّ الذِكْرَ تَنْفَعُ اْلمُؤْمِنِينَ
“Dan berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman” (QS Adz-Dzariyat: 55)
Selanjutnya, dapat dilihat juga dalam kitab Nailul Awthar juz. IV, sebagai berikut:
رَوِيَ عَنْ رَاشِدِبْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عَمِيرٍ قَالُوْااِذَا سَوَى عَلَى اْلمَيِّتِ وَانْصَرَفَ النَّاسَ عَنْهُ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ قَبْرِهِ يَافُلاَنُ قُلْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَافُلاَنُ رَبِّىَ اللهُ وَدِيْنِ اْلإِسْلاَمُ وَنَبِيّىِ ُمحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه سعيد
“Diriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad dan Dlamrah bin Habib dan Hakim bin Umair mereka berkata:
Apabila telah diratakan kuburan atas mayyit dan orang-orang telah pergi mereka mensunnahkan untuk dikatakan kepada mayyit di atas kuburnya:
Yaa Fulan, katakan! Tidak ada Tuhan kecuali Allah tiga kali;
Yaa Fulan, katakan! Tuhanku Allah agamaku Islam, Nabiku Muhammad SAW
kemudian pergilah”.
Dalam kitab الحاوى للفتاوى juz. II, karya Al-Imam Sayuthi mengungkapkan:
مَارُوِيَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى الله عليه وسلم اَنَّهُ لمَاَّ دُفِنَ وَلَدُهُ اِبْرَاهِيْمُ وَقَفَ عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ يَا بُنَيَّ اْلقَلْبُ َيحْزَنُ وَاْلعَيْنُ تَدْمَعُ وَلاَ نَقُوْلُ مَايُسْخِطُ الرَّبَّ. اِنَّاِللهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ يَاُبَنَيَّ قُلِ اللهُ رَبِّى وَالإِسْلاَمُ دِيْنِى وَرَسُوْلُ اللهِ أَبِى فَبَكَتِ الصَّحَابَةُ وَبَكَى عُمَرُبْنُ اْلَخطَّابِ بُكَاًء اِرْتَفَعَ لَهُ صَوْ تُهُ فَاْلتَفَتَ النَبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى عُمَرَ يَبْكِى وَالصَّحَابَةُ مَعَهُ فَقَالَ يَاعُمَرُ مَا يُبْكِيْكَ ؟ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ هَذَا وَلَدُكَ وَمَابَلَغَ اْلحُلُمَ وَلاَ جَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَيَحْتَاجُ اِلىَ مُلَقِّنٍ مِثْلِكَ يُلَقِّنُهُ التَّوْحِيْدَفىِ مِثْلِ هَذَااْلوَقْتِ. قَمَا حَالُ عُمَرَ وَقَدْ بَلَغَ اْلحُلُمَ وَجَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَلَيْسَ لَهُ مُلَقِّنٌ مِثْلُكَ, اَىُّ شَىْءٍ تَكُوْنُ صُوْرَتُهُ فِى مِثْلِ هَذِهِ اْلحَالَةِ فَبَكَى النَّبِىُّ صَلَّى الله عليه وسلم وَبَكَتِ الصَّحَاَبةُ مَعَهُ وَنَزَلَ جِبْرِيْلُ وَسَأَلَ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَبَبَ بُكَاِئِهمْ فَذَكَرَالنَّبِىَّ صَلَّى الله عليه وسلم مَاقَالَهُ عُمَرُ وَمَاوَرَدَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعِدَ جَبْرِيْلُ وَنَزَلَ وَقَالَ رَبُّكَ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَيَقُوْلُ يُثَبِّتُ اللهُ اَّلذِيْنَ ءَامَنُوْابِاْلقَوْلِ الثَاِبتِ فىِ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى اْلآخِرَةِ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَقْتَ اْلمَوْتِ وَعِنْدَ السَّؤَالِ فِى اْلقَبْرِ..
“Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya tatkala putranya Ibrahim telah dikubur, Rasulullah berdiri di atas kuburnya, kemudian beliau bersabda:
Wahai anakku, hati berduka cita dan air mata mengalir.
Dan kami tidak mengatakan sesuatu yang membuat Allah jadi murka.
Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Wahai anakku katakanlah!
Allah Tuhanku dan Islam agamaku, dan Rasulullah ayahku.
Maka menangislah para sahabat dan menangis pula pula sayyidina Umar Ibnul Khattab dengan tangisan yang nyaring, maka menoleh Rasulullah dan melihat Umar menangis bersama para sahabat lainnya, Rasulullah SAW bersabda:
Ya Umar, mengapa engkau menangis?
Umar menjawab:
"Ini putramu belum baligh dan belum ditulis dosanya, masih menghajatkan kepada orang yang mentalqin seperti engkau, yang mentalqin tauhid pada saat seperti ini, maka bagaimana keadaan Umar yang telah baligh dan telah ditulis dosanya tidak mempunyai orang yang akan menalqin seperti engkau, dan apa gambaran yang akan terjadi di dalam keadaan yang seperti itu",
maka menangislah Nabi SAW dan para sahabat bersamanya. Kemudian Jibril turun dan bertanya kepada Nabi sebab menangisnya mereka, kemudian Nabi menyebutkan apa yang dikatakan Umar dan apa yang datang kepada mereka dari perkataan Nabi SAW.
Kemudian Jibril naik dan turun kembali serta berkata: Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di dunia dan di akherat, yang dimaksud di waktu mati dan di waktu pertanyaan di kubur.”
Kepada yang masih hidup, talqin itu mempunyai mashlahat yang sangat besar, karena dengan mendengarnya mereka dapat mengingat dan menyiapkan diri pada kematian dirinya.
KH. Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Rabu, 12 Februari 2014

SHOLAT AWWABIN

Sholat Awwabin, Kaifiyyah dan Fadhilahnya



SHOLAT AWWABIN
Sholatnya orang-orang yang taubat dan kembali menuju keridhaan Allah SWT.



Dilakukan di waktu antara Maghrib dan Isya’ .  Sholat ‘Awwabin dilakukan paling sedikit 2 rakaat, pertengahannya  6  rakaat, dan paling banyak 20 rakaat.
Keutamaannya :
  1. Allah akan menjaga imannya agar tetap dalam keadaan Islam.
  2. Terjaga dari mati su’ul khotimah
  3. Dimudahkan ketika menghadapi sakarotil maut
  4. Terlindungi dari adzab kubur
  5. Dimudahkan ketika melewati shirot
  6. Seperti mendapat pahala Lailatul Qodar
  7. Diampuni dosa-dosanya
  8. Dibangunkan istana di surga
NIAT SHOLAT AWWABIN :

أُصَلِّي سُنَّةَ اْلأَوَّابِيْنَ ِللهِ تَعَالَى  

 USHOLLII SUNNATAL AWWABIN LILLAAHI TA’ALAA 

DOA SETELAH SHOLAT :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ إِيْمَانِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَعِنْدَ مَمَاتِيْ وبَعْدَ مَمَاتِيْ فَاحْفَظْ عَلَيَّ إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   3×

ALLOHUMMA  INNI  ASTAUDI’UKA  IMAANI  FI HAYAATI WA ‘INDA MAMAATI WA BA’DA MAMAATI  FAHFADHU ‘ALAIYYA INNAKA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR  (3X)

 “Ya Allah, Aku titipkan kepada-Mu imanku di dalam hidupku, dan ketika matiku, dan setelah matiku, maka jagalah dia untukku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.


MACAM-MACAM CARA (BENTUK) SHOLAT ‘AWWABIN


Terserah cara mana yang mau anda lakukan, semampunya.
1. Sholat 2  rakaat  setelah sholat sunnah ba’da Maghrib dan membaca di setiap rakaatnya :
surat Al Fatihah 1x  , Al Ikhlas 6x ,  Al Falaq 1x dan An Naas 1x.
Faedahnya Allah akan menjaga imannya.

2. Sholat 2 rakaat setelah sholat sunnah ba’da Maghrib setiap malam, dan membaca di setiap rakaatnya :    surat Al Fatihah, Ayat Kursi, surat Al Ikhlas, surat Al Falaq, dan An Nas masing – masing 1x kemudian  setelah  salam  ia bersholawat kepada Nabi SAW 10x dan berdoa.
Faedahnya, ia akan diamankan dari mati su’ul khotimah.

3. Sholat 2  rakaat  setelah sholat sunnah ba’da Maghrib dan membaca di setiap rakaatnya :
surat Al Fatihah, Al Qodr, Al Ikhlas 6x, Al Falaq, dan An Nas masing – masing 1x . 
Faedahnya Allah akan menjaga imannya sampai hari Kiamat.

4. Sholat 2 rakaat setelah sholat Maghrib di malam Jum’at , membaca di setiap rakaatnya :
surat Al Fatihah 1x  dan  Al Zalzalah 15x.
Faedahnya, Allah akan meringankan sakarotul mautnya, diamankan dari adzab kubur, dan dimudahkan melewati shirot.

5. Sholat 4 rokaat setelah Maghrib sebelum berbicara dengan orang lain.
Faedahnya akan mendapat pahala Lailatul Qodar

6. Sholat 6 rokaat setelah Maghrib sebelum berbicara dengan orang lain.
Faedahnya diampuni dosa-doasanya, dan pahalanya menyamai ibadah 12 tahun.

7. Sholat 20 rokaat setelah Maghrib sebelum berbicara dengan orang lain. 
Faedahnya Allah SWT akan membangunkan baginya sebuah rumah istana di surga




DALIL HADITS DAN ATSAR SHOLAT SUNNAH AWWABIN :

1.  وَقَدْ وَرَدَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَحْفَظَ اللهُ عَلَيْهِ إِيْمَانَهُ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ سُنَّةِ الْمَغْرِبِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ سِتَّ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّةً . قَالَ فِي الْمَسْلَك : فَإِذَا سَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ بِحُضُوْرِ قَلْبٍ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ إِيْمَانِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَعِنْدَ مَمَاتِيْ وبَعْدَ مَمَاتِيْ فَاحْفَظْ عَلَيَّ إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ثَلاَثًا.
2.   وَقَالَ فِيْ حَيَاةِ الْحَيَوَانِ : وَرَدَ أَنَّ مَنْ صَلَّى بَعْدَ سُنَّةِ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ كُلَّ لَيْلَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ : فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ. فَإِذَا سَلَّمَ مِنْهُمَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ عَشْرًا، وَقَالَ ثَلاَثًا - اَللهُمَّ أَسْتَوْدِعُكَ دِيْنِيْ فَاحْفَظْهُ عَلَيَّ فِيْ حَيَاتِيْ وَعِنْدَ مَمَاتِيْ وَبَعْدَ وَفَاتِيْ - ، أَمِنَ سُوْءَ الْخَاتِمَةِ .
3.  وَرُوِيَ عَنْ عَبْدِ الله بن عُمَرَ رَضِيَ الله تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّه قَالَ : قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِيْ شَيْئًا يَحْفَظُ اللهُ بِهِ عَلَيَّ اْلإِيْمَانَ حَتَّى أَلْـقِيَ رَبِّيْ عَزَّ وَجَلَّ ،فَقَالَ : صَلِّ كُلَّ لَيْلَةٍ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ (وفي رواية بعد سنة المغرب) قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ ، تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهُمَا فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً وَسُوْرَةَ الْقَدْرِ مَرَّةً وَسُوْرَةَ اْلإِخْلاَصِ سِتَّ مَرَّاتٍ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مَرَّةً وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ للنَّاسِ مَرَّةً  وَتُسَـلِّمُ مِنْهُمَا، فَـإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْفَظُ عَلَيْكَ اْلإِيْمَانَ حَتَّى تُوَافِيَ الْقِيَامَة .
4.  وَوَرَدَ مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِيْ لَيْلَةِ الْجُمْعَـةِ رَكْعَتَيْنِ  يَقْـرَأُ فِيْ كُلٍّ مِنْهُمَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَاحِدَةً ، وَإِذَا زُلْزِلَت خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَأَعَاذَهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَسَّرَ لَهُ الْجَوَازَ عَلَى الصِّرَاطِ .
5. وَوَرَدَ أَيْضًا  مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ  بَعْدَ الْمَغْرِبِ قَبْلَ أَنْ يُكَلِّمَ أَحَدًا رُفِعَتْ لَهُ فِيْ عِلِّيِّيْنَ وَكَانَ كَمنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى . 
6. وَوَرَدَ أَيْضًا مَنْ صَلَّى سِـتَّ رَكَعَاتٍ  بَعْدَ الْمَغْرِبِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلِّمَ غُفِرَ لَهُ بِهَا ذُنوْبُ خَمْسِيْنَ سَنَةً ، يَعْنِي الصَّغَائِرُ الوَاقِعَةُ فِيْهَا. أخرجه إبن شاهين عن أبى بكر من حديث طويل.
    وفي رواية  مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِـتَّ رَكَعَاتٍ لَمْ يَتَكَلَّمْ فِيْهَا بَيْنَهُنَّ بِسُـوْءٍ عَدَلْنَ لَهُ عِبَادَةَ ثِنْتَي عَشْـرَةَ سَنَةً . رواه ابن ماجه وابن خزيمة فى صحيحه والترمذى .
7.  وَوَرَدَ : مَنْ صَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً  بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ .  رواه ابن ماجه.












Referensi :
 Kitab Fathul ‘Allam bi Syarh Mursyidul Anam (fiqih syafi'i)
oleh Syech Muhammad Abdullah Al Jardany